Pages

Senin, 21 Mei 2012

Pasir Putih Pulau Condong, Juaranya Wisata di Lampung Selatan

Indahnya pemandangan Pulau Condong (fotoku.us)
Indahnya pemandangan Pulau Condong (fotoku.us)


Tidak perlu kamera bagus atau harus kursus fotografi. Di Pulau Condong, Lampung Selatan, hampir semua hasil foto pemandangan pasti akan terlihat bagus!

Lampung memang sering dijadikan destinasi wisata masyarakat perkotaan, seperti Jakarta. Letak lampung yang tidak terlalu jauh cukup mudah dijangkau dari Ibu Kota. Di sana terdapat banyak destinasi wisata yang sangat sayang jika dilewatkan, salah satunya adalah Pulau Condong yang terletak di Lampung Selatan.

Untuk menjangkaunya, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi dan menuju Pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni. Selain itu, Anda bisa menggunakan jasa angkutan bus AKAP tujuan Jakarta-Bandar Lampung.

Untuk bisa sampai di Pulau Condong, Anda harus mengunjungi kawasan Pantai Pasir Putih dengan tiket Rp 6.000 per orang. Kemudian, Anda bisa menggunakan jasa perahu bermotor berkapasitas 10 orang yang tersedia setiap saat. Untuk satu kali menyeberang ke Pulau Condong, Anda cukup membayar Rp 60.000 per rombongan.

Dari Pantai Pasir Putih hingga sampai di dermaga pulau, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang benar-benar indah. Sejauh mata memandang, hanya keindahan yang bisa Anda lihat.

Airnya sangat jernih, sehingga ikan-ikan kecil saja bisa terlihat dari permukaan. Belum lagi pasir putihnya yang menawan, tidak kalah dengan Pantai Pasir Putih.

Hawa sejuk akan terasa ketika Anda sampai di Pulau Condong. Mulailah untuk membidik objek dari kamera Anda jika tidak ingin ada pemandangan yang tertinggal. Jika kurang puas, Anda bisa jalan berkeliling pulau dan menemukan tebing-tebing tinggi yang berbatasan langsung dengan laut. Benar-benar pemandangan yang memesona!

Jernihnya air di Pulau Condong (sekaringsejati.blogspot.com)
Jernihnya air di Pulau Condong (sekaringsejati.blogspot.com)


Pemandangan lain di Pulau Condong (lampungprov.go.id)
Pemandangan lain di Pulau Condong (lampungprov.go.id)


Suasana di Pulau Condong (cinamons88.blogspot.com) 
Suasana di Pulau Condong (cinamons88.blogspot.com)


sumber : http://travel.detik.com/read/2012/05/17/122223/1919180/1025/1/pasir-putih-pulau-condong-juaranya-wisata-di-lampung-selatan#topart

Pesona Pantai Mutun Lampung







Pengungjung yang sedang menikmati air laut di Pantai Mutun Lampung.

detikTravel Community - 

Provinsi Lampung memang terkenal dengan keindahan pantainya. Provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatera ini menggugah saya untuk berkunjung untuk menikmati wisata bahari Pantai Mutun.
Berbekal rekomendasi teman dan blog di internet serta peta Provinsi Lampung, maka berangkatlah saya ke Lampung dengan kendaraan roda empat. Perjalanan Bandung - Lampung hanya membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam perjalanan, selama perjalanan menuju Pantai Mutun, saya disuguhi indahnya pesona alam yang asri, suasana kesegaran dan bau tumbuhan yang hijau makin membuat saya takjub dengan alam bahari di Lampung. Sesampainya disana saya sangat luar biasa kagum dengan keindahan pantai Mutun. Pantainya bersih, batuan karangnya masih terawat dan tentunya deburan ombak yang menantang saya untuk berselancar. Bagi saya perjalanan yang melelahkan menuju pantai Mutun terbayar sudah. Pantai ini membuat saya jatuh cinta untuk kembali menikmati surga dunia yang diberikan oleh Tuhan ini.
Untuk yang ingin menikmati plesiran bahari silakan kunjungi pantai Mutun. Dijamin anda akan takjub dengan indahnya alam bahari yang disajikan oleh pantai Mutun Lampung, apalagi penduduk lokalnya juga sangat arif dan siap membantu wisatawan untuk mengulik informasi mulai dari kuliner sampai penginapan. Letak pantai ini ada di Padang Cermin, Lampung Selatan


 sumber : http://travel.detik.com/read/2011/01/28/122431/1556372/1032/pesona-pantai-mutun-lampung

Pantai Cemara

cemara beach
cemara beach
Awal “kenal” nama pantai ini dari twitter, ketika saya memfollow sebuah akun tentang wisata Lombok. Sebuah twitnya menampilkan gambar dari Pantai ini. Seperti yang sudah-sudah dan Layaknya love at the first sight saya langsung penasaran untuk membuktikannya sendiri.
Dan setelah tanya sana tanya sini, ternyata Pantainya ga begitu jauh dari Tanjung Ringgit itu. Perjalanan ke Pantai Cemara kali ini adalah perjalanan di hari yang sama ketika saya dan teman-teman mengunjungi Tanjung Ringgit.
Berjarak tempuh sama seperti bila kita mendatangi Tanjung Ringgit. Hanya saja akses jalan untuk sampai ke pantainya jauh lebih mendingan. Persis berada ditengah-tengah antara Pantai Surga dan Tanjung Ringgit.
Pantainya bersih, masih alami seperti khas pantai-pantai lain di Lombok. Pasirnya halus seperti tepung terigu. Oh iya, kenapa dinamakan Pantai Cemara karena di pesisir pantai masih banyak terdapat pepohonan cemara. Di Pantai ini terdapat banyak rumput laut.
Lagi-lagi saya terpesona sekaligus merasa miris dengan besarnya potensi wisata Lombok yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Hotel? Penginapan? Toilet? Warung? Semua ngga ada.
Gimana ngga prihatin coba? Banyak sekali teman-temanku yang asli masyarakat atau yang sudah sejak lahir hidup di Lombok belum pernah mendengar pantai ini, apalagi mengunjunginya.
Promosi kedalam (masyarakat Lombok) aja masih ga terasa, gimana mau mendukung promosi visit Lombok Sumbawa 2012.
Setelah dari Pantai Cemara, kami melanjutkan ke Pantai Kaliantan.
pantai kaliantan
pantai kaliantan
Pantai yang tak kalah indahnya dari Pantai cemara.
Pantai-pantai di selatan Pulau Lombok memang selalu membuat saya bersyukur dan kagum akan ciptaanNya.


sumber : http://depz.blogdetik.com/2010/09/28/pantai-cemara/

Tiga Gili Cantik Primadona Lombok

Pantai Gili Trawangan (Foto: Mutya/okezone)

GILI Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air adalah tiga pulau wisata di Lombok yang kerap disambangi wisatawan asing (wisman). Apa yang membuat mereka memfavoritkan destinasi ini?

Gili dalam bahasa setempat berarti “pulau”, yang kemudian menjadi nama Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air dalam pemerintahan Desa Gili Indah, Lombok. "Desa Gili Indah jumlah penduduknya 3.684 jiwa, jadi memang cukup sedikit," tutur Maruli, Kepala Desa Gili Indah, ketika ditemui di Villa Queen & Spa Gili Trawangan, baru-baru ini.

Dia mengatakan, nenek moyang penduduk Gili-gili ini adalah Suku Bugis dan juga Suku Sasak. Setiap Gili mempunyai sejarahnya sendiri, seperti Gili Air, dinamakan "Air" karena menurut Maruli, dulunya air di laut sekitar Gili tidak asin sehingga dapat dijadikan air minum.

"Kalau Gili Meno, itu sebenarnya nama aslinya Gili Cikno dari bahasa Bugis yang artinya ‘tempat pembuatan garam’," jelasnya. Gili Trawangan sendiri berarti “pulau penerawang” karena di pulau ini ada terowongan untuk menerawang musuh yang kini sudah ditutup.

Keindahan bawah laut dengan terumbu karang memang menjadi daya tarik utama gili-gili ini. "Padahal dulu, terumbu karang kami sempat rusak karena ada badai El Nino pada awal 1990an, namun hingga kini keindahannya masih mampu menarik turis," ujar Maruli.

Selain  keindahan alam, keramahan penduduk juga menjadi daya tarik utama Gili-gili ini. "Penduduk kami memang terkenal ramah terhadap wisatawan karena memang penghasilan utama kami dari sektor wisata," tukasnya. Selain itu, kebersihan juga menjadi hal utama yang terus dijaga oleh penduduk ketiga gili. "Kalau terumbu karang kotor, pantai kotor, siapa yang mau datang? Nanti kami juga yang akan dirugikan bila turis sepi," ujarnya.

Dulu, gili-gili ini memang benar-benar kalah pamor dibanding tetangga sebrangnya, yaitu Bali. Namun kini, menurut Maruli, sudah banyak wisatawan asing yang datang. "Memang, kebanyakan yang datang ke sini wisatawan mancanegara, biasanya untuk bulan madu atau diving," tukasnya. "Perairan gili-gili ini memang luar biasa untuk diving," tuturnya, bangga.

Di beberapa titik di tiga gili ini terdapat tempat penangkaran hewan laut. Contohnya, Gili Trawangan yang memiliki tempat penangkaran hiu dan penyu, Gili Meno yang memiliki tempat penangkaran penyu dan ikan lain.

"ikan-ikan di sini ramah, tidak takut bila dihampiri penyelam," yakin Maruli.

Sementara, Gili Air menjadi daya tarik penyelam karena keberadaan palung laut yang cukup dalam. Tak heran, bila gili-gili ini menjadi populer di kalangan wisman penyelam. Selain masih cukup sepi, alam bawah lautnya juga indah.
(ftr)

sumber : http://travel.okezone.com/read/2012/04/30/408/620923/tiga-gili-cantik-primadona-lombok


Minggu, 20 Mei 2012

Kepariwisataan #4

Berikan analisis anda mengapa pariwisata memerlukan dasar UU untuk
melakukan kegiatannya?

Jawab :

Ya karena faktor utama yang sangat menentukan penyelenggaraan kegiatan adalah
kepastian hukum.dan kepastian hukum itu adalah suatu UU yang dibentuk untuk melindungi,menjaga serta melestarikan tempat tersebut.agar tangan-tangan usil tidak dapat mengusik.

Kamis, 03 Mei 2012

Danau Gunung Tujuh



Danau Gunung Tujuh


Danau Gunung Tujuh terletak di Desa Pelompek, Kecamatan Ayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi. Danau ini tercatat sebagai gunung tertinggi di Asia Tenggara dengan ketinggiannya yang mencapai 1.950 meter dari permukaan laut.
Wisata alam ini terbentuk karena peritiwa meletusnya Gunung Tujuh. Akibat peristiwa alam tersebut mengakibatkan terbentuknya sebuah kawah yang lambat laun terisi oleh air hujan. Setelah kejadian ini barulah bekas letusan dinamakan sebagai Danau Gunung Tujuh.
Keindahan alam dikawasan ini masih sangat asri. Udara di tempat ini bisa membuat wisatawan betah berlama-lama. Suasana yang disuguhkan juga sangat nyaman dan tentram. Di beberapa spot sekitar danau terdapat hamparan pasir seperti pantai. Biasanya para wisatawan membangun kemah di tempat ini untuk menunggu matahari terbit. Saat sunrise, wisatawan bisa melihat danau dengan paras yang elok.



Keindahan danau ini semakin bertambah dengan adanya tujuh gunung yang mengelilinginya. Ketujuh gunung tersebut, meliputi Gunung Hulu Tebo, Gunung Hulu Sangir, Gunung Madura Besi, Gunung Lumut, Gunung Selasih, Gunung Jar Panggang, dan Gunung Tujuh. Selain itu, air di danau ini juga menjadi sumber mata air yang berasal dari Air Terjun Gunung Tujuh, Air Terjun Terjun Telun Berasap, dan Sungai Batang Sangir.
Konon Danau Gunung Tejuh merupakan danau sakti. Percaya tidak percaya menurut masyarakat danau ini dijaga dan dihuni oleh dua makhluk halus. Masyarakat menyebut kedua makhluk tersebut dengan nama Lbei Sakti dan Saleh Sri Menanti.
Untuk sampai ke tempat ini wisatawan harus melewati 3 tahap perjalanan. Tahap pertama ada tiga alternatif jalan yang bisa dilalui, yaitu perjalanan dari Kota Jambi ke Sungai Penuh yang dapat, perjalanan Kota Padang ke Tapan kemudian ke Sungai Penuh, atau dari Kota Padang ke Muralabuh yang di lanjutkan ke Sungai Penuh. Ketiga alternatif ini memiliki jarak dan waktu tempuh yang berbeda-beda.
Kedua, Setelah sampai di Sungai Penuh wisatawan melanjutkan ke Desa Pelompek. Perjalanan ini bisa memanfaatkan kendaraan umum. Jarak dari Sungai penuh menuju Pelompek membutuhkan waktu 1,5 jam dengan jarak 50 km. Jika sudah sampai di Desa Pelompek wisatawan tinggal berjalan kaki untuk mencapai lokasi Danau Gunung Tujuh.
Saat berjalan kaki ada dua rute yang bisa dilewati oleh wisatawan. Rute yang pertama, bisa memulai dari pos jaga kawasan Gunung Tujuh ke tepi danau dengan jarak 3 km dengan waktu tempuh 2,5 jam. Rute kedua, wisatawan bisa memulai dari belakang wisma tamu Gunung Tujuh ke tepi danau dengan jarak 2,5 km. Medan yang dilewati memang cukup curam sehingga waktu tempuh yang diperlukan sedikit lebih lama dari rute pertama. Tapi, bagi wisatawan yang memiliki nyali bisa mencoba rute yang kedua.
Fasilitas yang disediakan di kawasan ini tergolong memadai. Di sini terdapat homestay dan tempat makan yang menyediakan masakan khas kerinci. Letak tempat-tempat ini juga tidak terlalu jauh dari lokasi Danau Gunung Tujuh.
Sumber  : Detik.Travel.com

sumber : http://jambitourism.co.id/danau-gunung-tujuh/

Wakatobi, Surga Indah di Bawah Laut

Wakatobi (Foto: jitourism)
Wakatobi (Foto: jitourism)
WISATA pantai menjadi primadona Indonesia yang memang dikelilingi oleh gugusan pulau-pulau nan cantik. Salah satunya Taman Nasional Wakatobi yang menjadi destinasi unggulan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di 2012.

Nama Wakatobi berasal dari empat pulau besar yang ada disini, yaitu Pulau Wang-Wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan Pulau Binongko. Taman Nasional Wakatobi merupakan salah satu dari 50 taman nasional di Indonesia, yang terletak di kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Taman nasional ini ditetapkan pada 1996, dengan total area 1,39 juta hektare, menyangkut keanekaragaman hayati laut, skala, dan kondisi karang, menempatkannya salah satu prioritas tertinggi konservasi laut di Indonesia. Kedalaman air di taman nasional ini bervariasi, bagian terdalam mencapai 1.044 meter di bawah permukaan air laut.

Untuk mencapai Wakatobi, bisa dengan perjalanan laut dan udara. "Kalau dari Jakarta, pertama terbang dulu ke Makassar kemudian dilanjutkan penerbangan ke Baubau lalu dilanjutkan penerbangan ekspres ke Wakatobi. Keseluruhan perjalanan dari Jakarta hingga ke Wakatobi memakan waktu kira-kira 3 jam 45 menit hingga 4 jam," tutur Karina, wisatawan yang sempat datang ke Wakatobi kepada okezone melalui email, beberapa waktu lalu.

Dengan gelarnya sebagai taman laut nasional, tentu saja wisata utama di Wakatobi adalah menyelam. Apalagi, taman laut ini memiliki beragam terumbu karang dan juga spesies ikan menarik, seperti yang telah disebutkan di atas.

"Di Wakatobi, kalau sudah memiliki lisensi diving maka tinggal menyewa alatnya saja, seharga Rp 150.000 hingga Rp 250.000" ujar Karina.

Bila tidak memiliki lisensi diving, tidak perlu khawatir tidak bisa melihat keindahan bawah laut Wakatobi. Pasalnya, resor-resor dan hotel di Wakatobi biasanya mempunyai dive centre yang dapat memberikan paket diving lengkap dengan alat selam dan instruktur yang akan memandu Anda di bawah laut.

"Kalau paket seperti ini harganya sekitar Rp500 ribu," imbuhnya.

Selain menyelam, wisatawan juga bisa bersantai di pantai-pantai pulau-pulau di Wakatobi yang indah atau melakukan wisata budaya ke desa-desa tradisional terdekat. "Saya mengunjungi Desa Mola dan melihat penduduk desa membuat kerajinan dengan bahan akar, rotan, dan tanaman. Lumayan untuk oleh-oleh," kata Karina.

Tentunya, tidak lupa ke Wakatobi harus mencoba masakan lautnya. Anda bisa mendapatkan ikan dan hewan-hewan lautnya yang bisa dimakan seperti sotong, tiram, dan teripang di pasar ikan tradisionalnya.

Untuk masalah akomodasi, juga tidak perlu dikhawatirkan. Menurut Karina, di Wakatobi sudah banyak resor, hotel, serta penginapan dengan harga yang beragam. "Namun sebaiknya, jika mau menginap lebih baik di pulau Wangi-Wangi. Sarana dan prasarananya lebih lengkap, lebih mudah juga kalau mau ke pulau-pulau lain," tuturnya.

Karina menyarankan sebaiknya datang ke Wakatobi pada April hingga Juni atau Oktober hingga Desember. "Saat bulan-bulan tersebut cuacanya baik, ombak juga tidak besar," terangnya.

Taman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumber daya alam laut yang bernilai tinggi, baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan. Secara umum, perairan lautnya mempunyai konfigurasi dari mulai datar sampai melandai kearah laut dan beberapa daerah perairan terdapat yang bertubir curam. Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km.

Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional yaitu suku laut atau yang disebut suku Bajau. Menurut catatan China kuno dan para penjelajah Eropa, manusia berperahu mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara, yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.

Pulau Hoga (Resort Kaledupa), Pulau Binongko (Resort Binongko) dan Resort Tamia merupakan lokasi yang menarik dikunjungi terutama untuk kegiatan menyelam, snorkeling, wisata bahari, berenang, berkemah, dan wisata budaya.

Wakatobi memang pilihan tepat bagi wisatawan yang ingin melakukan wisata diving. Namun sayangnya, biaya transportasi kesana masih cukup mahal. "Saya suka Wakatobi, namun tiket menuju kesana masih cukup mahal. Biaya pesawat pulang pergi kira-kira bisa mencapai Rp2,5 juta," tutupnya.
(ftr)
 
sumber : http://travel.okezone.com/read/2012/02/13/408/575018/wakatobi-surga-indah-di-bawah-laut